Rabu, 11 Februari 2009

Global Warming, suatu Agama Baru

Agama Baru yang Bernama Global Warming
Dr. rer.nat. Kebamoto
Penulis cukup terhentak ketika mantan Gubernur NTT dr. Ben Mboy, pada acara pertemuan warga NTT di Jakarta dengan gubernur dan Wakil Gubernur NTT, menanggapi program kembali ke jagung yang akan dijalankan Gubernur Frans Lebu Raya. Bagaimana tidak. Ben Mboy mengatakan, “tidak usah menanam jagung karena hujan semakin jarang turun di NTT akibat global warming. Tanaman keras aja.” Apakah betul demikian? Bukankah sebahagian daerah di NTT (Sumba Barat Daya) misalnya masih mampu memanen jagung dua kali setahun? Apakah tanaman keras yang panennya sangat lama (di atas 10 tahun) itu menjawab keinginan Frans Lebu Raya untuk membuat masyarakat NTT mampu menghasilkan kebutuhan pangannya sendiri walaupun itu Cuma jagung? Begitu hebatkah isu global warming itu sehingga kebijakan pemerintah harus berubah total? Tulisan ini ingin mengkritisi pemahaman kita tentang global warming sekali gus “merayakan” Seminar Nasional Lingkungan Hidup yang akan diadakan oleh UNDANA tanggal 19 November 2008.
Banyak orang yang fanatik sekali dengan isu Global Warming gara-gara disiarkan oleh Al Gore, mantan wakil presiden Bill Clinton, Amerika Serikat. Dikatakan fanatik karena banyak dari mereka yang percaya begitu saja fakta-fakta yang dikemukakan para pendukung global warming meski pun antara fakta yang satu dengan fakta yang lain sulit dihubung-hubungkan. Fakta-fakta yang sering sekali diusung pendukung fanatik global warming adalah (1) suhu bumi naik 0,5oC karena peningkatan jumlah gas rumah kaca di atmosfir. (2) es di kutub, benua Antartika, mulai menipis dan bahkan es meleleh dalam jumlah yang sangat besar, (3) kebanjiran di mana-mana termasuk Jakarta dan tempat tempat lain, (4) curah hujan yang rendah (5) timbulnya badai seperti badai Katarina (6) tanah longsor (7) Permukaan air tanah yang turun sehingga banyak daerah yang kekurangan air dan masih banyak lagi.
Mari kita hubungkan fakta-fakta di atas. Jika betul es di kutub sudah banyak yang mencair, maka sebagai konsekuensi logisnya, akan terdapat sejumlah daratan yang tertutup air dan juga permukaan air tanah menjadi naik yang berarti daerah yang tadinya kesulitan air akan menjadi kelimpahan air. Sampai saat ini belum ada laporan tentang adanya kota di tepi pantai yang tenggelam. Benua Afrika masih saja kekurangan air dari dulu sampai sekarang. Mestinya es yang mencair akan memperbanyak air tanah dan Benua Afrika semakin kelimpahan air. Jadi fakta (2) dan (7) bertentangan. Betul bahwa kalor jenis air lebih besar dari daratan sehingga lambat panas dan lambat dingin. Panas dari laut inilah yang dipercayai merambat ke kutub dan memelehkan es. Masalahnya adalah jika bumi dianggap isotermal (suhu sama) maka beberapa fenomena ini mesti diamati antara lain: es di kutub meleleh tetapi suhu permukaan bumi tidak naik, terjadi migrasi besar-besaran hewan laut dari laut tropis ke laut kutub dan sebaliknya, dan yang lebih parah lagi adalah tidak akan pernah ada angin apalagi badai jika bumi isotermal (suhu sama di mana-mana). Kenyataannya, angin masih ada dan fenomena El Nino dan La Nina yaitu akibat arus panas di lautan Pasifik dari Inggris sampai Argtentina. Kebanjiran dan curah hujan rendah adalah juga 2 hal yang saling bertentangan. Dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak sinkron sehingga sampai saat ini terjadi pro dan kontra.
Mengenai gas rumah kaca sendiri, terdapat banyak sumber seperti CO2, NOx, SOx, H2O (uap air), metana dan berbagai gas alam yang mudah menguap. Bumi ini terdiri dari air yaitu 2/3 luas daratan sehingga menyumbang sekitar 70% uap air ke udara. Itu berarti, tanpa gas-gas lain pun lautan menyumbang sebagian besar gas rumah kaca. Lalu pohon yang busuk, kotoran sapi, sampai, dedaunan yang busuk juga melepaskan gas rumah kaca. Logikanya, hutan pun tidak b oleh ada jika kita engin efek rumah kaca menjadi sedikit. Sadarkah kita bahwa hari yang panas terik terjadi pada siang tak berawan? Jadi tebalnya gas di atmosfir sebetulnya juga melindungi kita dari panas.
Masih banyak hal-hal yang tidak jelas yang akhirnya menggiring kita kepada pemahaman tentang global warming betul-betul mirip sekali dengan pemahaman agama. Kemiripannya bahwa tidak semua doktrin agama harus dibuktikan tetapi harus dipercayai apa adanya. Demikianlah isu global warming ini menjalar di muka bumi ini laksana sebuah agama baru.

Isu Lingkungan Lebih Relevan
Dari pada kita menghabiskan energi untuk berusaha menyingkap kebenaran global warming, mengkampanyekannya kepada rakyat kita yang pemahanmannya kurang, lebih baik kita konsisten dengan isu lingkungan (lokal). Selain fakta-fakta di atas lebih mudah difahami, dengan konsep lingkungan (lokal) rasanya kita lebih mampu berinisiatif dan berbuat banyak. Kurang air dan kurang hujan dapat dijelaskan karena lingkungan yang tandus. Dengan menanam pohon hujan akan turun dan air akan melimpah sehingga lingkungan tidak tandus lagi. Banyak orang sudah membuktikan ini dan dalam konteks NTT sudah beberapa orang yang memperoleh Kalpataru. Bencana longsor dapat dicegah dengan menanam banyak pohon yang akarnya mengikat tanah dan kalau lereng itu labil janganlah membangun rumah di lerengjnya. Jakarta dan Kupang akhir-akhir ini kebanjiran karena hampir semua permukaan tanah disemen, selokan mampat, pembuangan air tidak jelas sehingga air hujan kebingungan mencari jalan untuk menuju ke laut. Karena air terjebak, macet dan berkumpul lalu kita namakan banjir.
Jika lingkungan sekitar kita hutannya gundul maka tanah dan batu yang gampang menerima panas akan meradiasikan kembali panasnya ke sekitarnya. Kita menjadi semakin kepanasan ibarat duduk di sekitar perapian. Dan yang terakhir, kota Bajawa, Waikabubak, Puncak, Bandung semakin tidak dingin bukan karena suhu bumi yang naik tetapi orangnya yang makin banyak. Ibarat duduk di ruangan ber-AC. Manakala hanya terdapat 2 atau 3 orang saja, ruangan itu dingin sekali. Ketika 30 orang bejubel dalam ruangan itu maka semua orang akan kepanasan. Mengurangi jumlah penduduk lebih relevan ketimbang menyalahkan gas rumah kaca.
Keuntungan lain adalah sikap kita akan beda. Jika kita terlalu percaya pada isu global warming, maka kita akan lambat bertindak karena kita cenderung menunggu tindakan global. Kita menjadi tergantung kepada negara lain, program orang dari negara lain dan kita kekurangan inisiatif. Sebaliknya jika kita berfokus hanya kepada lingkungan (lokal) maka kita akan mampu bertindak secara sendiri-sendiri atau pun ramai-ramai tanpa menunggu upaya-upaya global. Kita akan rajin menanam tanaman keras pada lahan yang tanaman umur pendeknya seperti jagung dan ubi-ubian kurang cocok. Namun pada lahan yang banyak air dan subur, janganlah ditanami tanaman keras agar tersedia bahan kebutuhan pohok. Di Sumba Barat, 20 tahun lalu Bupati Pandango mewajibkan semua petani menanam 1000 keladi, 1000 ubi, dan tentu saja jagung dan padi. Pada jaman Bupati Rudolf Malo, ada gerakan menanam pisang dan sekitar tahun 80-an ada seorang politikus dari Waikabubak pulang kampung (sekarang Sumba Barat Daya) dan mengajurkan kepada keluarganya untuk menanam kayu mahoni. Alhasil, waktu itu tidak ada kelaparan berarti seperti tahun 1970-an dimana orang Sumba makan ubi hutan. Saat ini petani di Sumba Barat Daya banyak menjual pisang bertruk-truk ke Bima dan menjual kayu mahoni dengan harga 2,5 juta rupiah per meter kubik.
Saat ini, banyak saudara kita, anak-anak kita yang segan menanam apapun di kebun karena setiap bulan “panen” beras di kantor lurah. Rasanya, gerakan kembali ke jagung mesti didasari dengan gerakan kembali ke kebun dengan kewajiban menanam sejumlah keladi dan ubi. Saya yakin Bapak Piet A. Tallo akan tersenyum mengingat kiprahnya di TTS yang sampai-sampai menyumpal mulut rakyat dengan tanah. Sasaran beliau adalah rakyat yang kerjanya hanya nongkrong di pasar seharian karena malas ke kebun. Barangkali gerakan itulah yang menghijaukan kecamatan Niki-Niki di TTS sampai saat ini. Lupakan global warming dan arahkan rakyat untuk meraih kejayaan yang minimal sama dengan nenek moyang kita. Nenek moyang kita waktu itu lebih bermartabat oleh karena keuletan mereka mengolah “tanah” yang sama. Semoga!
Penulis, dosen Fisika FMIPA-UI dan Pemred Majalah Pendidikan INSIDE, tinggal di Depok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar