Merdekakan Pendidikan Dari Penjajahan Buku Ajar
Dr. rer.nat. Kebamoto
Buku ajar yang dipakai di sekolah-sekolah selama puluhan tahun terus merontokkan mutu pendidikan ke level terendah seperti sekarang ini. Sangat sulit pendidikan kita melepaskan diri dari buku ajar seperti itu walaupun mutu pendidikan semakin merosot. Kesulitan ini dimulai dari keharusan memakai buku ajar yang diuji mutunya oleh pusat buku Diknas sampai kepada tanda tangan dan cap Dirjen Dikdasmen sebagai upaya “pentahbisan” buku ajar sebagai pegangan seluruh sekolah di Indonesia. Disadari atau tidak, Diknas sendiri beralih ke buku ajar elektronik hanya gara-gara mengendalikan harga sedangkan mutu dan “penjajahan” buku ajar tetap saja terjadi. Karena itu, tulisan ini ingin mengajak masyarakat pendidikan untuk memerdekakan pendidikan dari buku ajar yang selama ini mengungkung pendidikan sehingga semakin tidak bermutu.
Rendahnya mutu pendidikan Nasional jangan hanya dilihat dari mutu guru saja melainkan juga buku ajar yang dipakai selama ini. Bukankah kualitas bahkan tindak-tanduk seseorang sangat dipengaruhi oleh buku apa yang dibacanya? Bahkan, dibandingkan dengan guru, buku ajarlah yang paling bertanggung jawab. Intinya, rendahnya mutu SDM selama ini disebabkan oleh buku ajar yang beredar selama ini yang tidak memenuhi tuntutan SDM bermutu yang diharapkan sejak di bangku sekolah. Jika buku ajar telah memenuhi tuntutan SDM yang diharapkan, maka mutu pendidikan kita dan juga mutu SDM kita tidak akan semakin terjun bebas seperti sekarang ini.
Untuk bisa mengkaji hal ini lebih dalam, kita bisa mengacu pada ketetapan dalam pasal 19 PP No.: 19 tahun 2005 dalam standar proses pembelajaran. Di sana dikatakan “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan yang berstandar nasional diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang lingkup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik, dan yang terlebih penting dalam proses pembelajaran adalah memberikan keteladanan”.
Terpampang jelas bahwa hasil pembelajaran di kelas haruslah menghasilkan lulusan (SDM) pada setip tingkat satuan pendidikan yang berinisiatif, kretifitas dan mandiri. Semuanya ini tidak terwujud saat ini dan merupakan bukti tersendatnya kreativitas SDM dari lulusan dari berbagai tingkat satuan pendidikan. Kemampuan untuk melakukan prakarsa pun sangat memprihatinkan. Padahal, yang namanya prakarsa itu adalah “disuruh hari ini, pekerjaan sudah selesai kemarin.” Karena kreatifitas dan prakarsa yang sangat rendah itulah membuat pribadi lepas pribadi, daerah dan negara tidak pernah mandiri.
Pemerintah sudah menetapkan standar proses “dengan kata-kata”, namun belum menunjukkan bagaimana pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi itu dan buku yang bagaimana yang sesuai dengan standar proses tersebut.
Faktanya pada mayoritas sekolah-sekolah sejak 60 tahun yang lalu sampai saat ini, tidak melakukan pembelajaran tetapi pengajaran yang pada akhirnya menghasilkan SDM yang hanya bisa menghafal sehingga tumpul di masyarakat. Lebih parah lagi, pendidikan kita memakai metode kuliah dari SD sampai perguruan tinggi dan ditemani oleh buku-buku ajar yang menggiring siswa menghafal dan tidak mampu membangkitkan aspek-aspek di atas. Ciri-ciri buku ajar yang menggiring pembelajaran yang menghafal adalah: (1). Terlalu rinci. Mengajar dengan buku ajar yang rinci, diulang oleh guru di depan kelas lalu anak-anak disuruh untuk bertanya. Mungkinkah? Mau tanya apa lagi? Sudah ada di buku dan sudah dijelaskan kembali oleh guru. Dapatkah memampuan berdiskusi dan bertanya dengan tepat serta minat baca SDM kita dibangun dengan buku yang rinci? (2). Terlalu padat. Buku yang terlalu padat bagi siswa SD sampai SMP akan menjebak siswa dalam rimba raya paragraf. Anak-anak yang belum mahir benar menangkap pokok pikiran dari sebuah paragraf akan tersiksa oleh buku-buku seperti itu. Kadang-kadang, gurupun (apa lagi di daerah) sangat kesulitan dengan buku yang padat. Inikah standar proses pembelajaran yang menyenangkan? Parahnya lagi, semua pelajaran sejak kelas I SD sudah ada bukunya. Padahal dalam kehidupan, kita mesti menangkap pembicaraan orang tanpa mencatat. Mencongak dan ilamah yang dulunya diperkenalkan Belanda ditinggalkan begitu saja. (3). Mengawang-awang. Buku yang mengawang-awang adalah buku yang semata-mata berisikan hal-hal yang sulit dibayangkan oleh siswa. Bercerita tentang luar negeri, salju, pesawat ruang angkasa, kereta cepat dan lain-lain tetapi tidak memulai dari hal-hal yang ada di sekitar siswa (relistik ke abstrak). Apakah pendidikan seperti ini tidak menggiring SDM kepada ketergantungan? (4). Praktikum dengan alat canggih dan memakai langkah-langkah percobaan. Kelemahan praktikum dengan alat yang canggih (mesti dibeli atau walaupun hibah pemerintah LN) membuat tangan siswa tidak bisa bergerak untuk trampil membuat sendiri alat-alat praktikum dari alat di sekitar mereka. SDM kita hanya bisa membeli dan inilah ketergantungan yang diciptakan pendidikan kita. Lalu, kelemahan berikut adalah percobaan dengan langkah-langkah percobaan sehingga siswa dibelenggu untuk melakukan apa yang orang lain sudah gariskan. Pratikum kita adalah membuktikan sesuatu yang sudah terbukti saja tanpa membuka peluang untuk munculnya sesuatu hasil yang baru. Siswa tidak mungkin memiliki prakarsa dan kesimpulannya harus sama dengan buku. Celakanya, SDM yang kita hasilkan tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada lagi yang menuntunnya dengan langkah-langkah kegiatan. Inikah pendidikan yang membangun prakarsa dan mandiri? (5). Teori dipisahkan dari Praktikum. Dimana menariknya praktikum itu jika segala sesuatu yang akan dikerjakan sudah dijelaskan konsepnya? Guru berapi-api menerangkan bahwa udara memuai bila dipanaskan. Guru sudah menyebutkan contoh percobaannya. Lalu siswa tinggal membeo. Apa yang mau dicapai dari kegiatan belajar seperti itu? (6). Soal-soal yang lurus. Masalah serius dengan buku ajar sekarang adalah soal-soal di akhir bab yang jawabannya sudah ada di teks pada bab yang sama lalu terlalu “lurus” artinya soal yang menggiring untuk membuat siswa gemar menghafal dan tidak memakai logika dan analisa.
Dalam kegiatan belajar-mengajar (KMB) di kelas harus dibangun pada anak didik hal-hal berikut: (1) penguasaan konsep, (2). logika yang runut (3). daya imajinasi yang kuat, (4). kemampuan berdiskusi dan (bertanya), (5). tekun bekerja (juga dengan tangan), (6). meningkatkan minat baca, dan (7). Kritis dalam arti memiliki kemampuan memprediksi ke depan (konsekuensi dan resiko) tentang tindakan sekecil apapun yang dilakukan. Hanya dengan memastikan bahwa 6 hal ini dapat dilakukan dalam pembelajaran maka pendidikan kita menghasilkan SDM yang kreatif dan inisiatif. Ujungnya adalah masyarakat yang mandiri dan keseluruhan menjadi bangsa yang besar. Buku ajar yang salahlah yang membuat bangsa ini semakin mundur. Singkatnya, buku ajar yangh dipakai saat ini hanyalah buku referensi yang rinci dan tidak cocok untuk interaksi dalam pembelajaran di kelas. Tinggalkan buku ajar yang seperti itu jika anda ingin merdeka.
Dr. rer.nat. Kebamoto
Buku ajar yang dipakai di sekolah-sekolah selama puluhan tahun terus merontokkan mutu pendidikan ke level terendah seperti sekarang ini. Sangat sulit pendidikan kita melepaskan diri dari buku ajar seperti itu walaupun mutu pendidikan semakin merosot. Kesulitan ini dimulai dari keharusan memakai buku ajar yang diuji mutunya oleh pusat buku Diknas sampai kepada tanda tangan dan cap Dirjen Dikdasmen sebagai upaya “pentahbisan” buku ajar sebagai pegangan seluruh sekolah di Indonesia. Disadari atau tidak, Diknas sendiri beralih ke buku ajar elektronik hanya gara-gara mengendalikan harga sedangkan mutu dan “penjajahan” buku ajar tetap saja terjadi. Karena itu, tulisan ini ingin mengajak masyarakat pendidikan untuk memerdekakan pendidikan dari buku ajar yang selama ini mengungkung pendidikan sehingga semakin tidak bermutu.
Rendahnya mutu pendidikan Nasional jangan hanya dilihat dari mutu guru saja melainkan juga buku ajar yang dipakai selama ini. Bukankah kualitas bahkan tindak-tanduk seseorang sangat dipengaruhi oleh buku apa yang dibacanya? Bahkan, dibandingkan dengan guru, buku ajarlah yang paling bertanggung jawab. Intinya, rendahnya mutu SDM selama ini disebabkan oleh buku ajar yang beredar selama ini yang tidak memenuhi tuntutan SDM bermutu yang diharapkan sejak di bangku sekolah. Jika buku ajar telah memenuhi tuntutan SDM yang diharapkan, maka mutu pendidikan kita dan juga mutu SDM kita tidak akan semakin terjun bebas seperti sekarang ini.
Untuk bisa mengkaji hal ini lebih dalam, kita bisa mengacu pada ketetapan dalam pasal 19 PP No.: 19 tahun 2005 dalam standar proses pembelajaran. Di sana dikatakan “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan yang berstandar nasional diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang lingkup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik, dan yang terlebih penting dalam proses pembelajaran adalah memberikan keteladanan”.
Terpampang jelas bahwa hasil pembelajaran di kelas haruslah menghasilkan lulusan (SDM) pada setip tingkat satuan pendidikan yang berinisiatif, kretifitas dan mandiri. Semuanya ini tidak terwujud saat ini dan merupakan bukti tersendatnya kreativitas SDM dari lulusan dari berbagai tingkat satuan pendidikan. Kemampuan untuk melakukan prakarsa pun sangat memprihatinkan. Padahal, yang namanya prakarsa itu adalah “disuruh hari ini, pekerjaan sudah selesai kemarin.” Karena kreatifitas dan prakarsa yang sangat rendah itulah membuat pribadi lepas pribadi, daerah dan negara tidak pernah mandiri.
Pemerintah sudah menetapkan standar proses “dengan kata-kata”, namun belum menunjukkan bagaimana pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi itu dan buku yang bagaimana yang sesuai dengan standar proses tersebut.
Faktanya pada mayoritas sekolah-sekolah sejak 60 tahun yang lalu sampai saat ini, tidak melakukan pembelajaran tetapi pengajaran yang pada akhirnya menghasilkan SDM yang hanya bisa menghafal sehingga tumpul di masyarakat. Lebih parah lagi, pendidikan kita memakai metode kuliah dari SD sampai perguruan tinggi dan ditemani oleh buku-buku ajar yang menggiring siswa menghafal dan tidak mampu membangkitkan aspek-aspek di atas. Ciri-ciri buku ajar yang menggiring pembelajaran yang menghafal adalah: (1). Terlalu rinci. Mengajar dengan buku ajar yang rinci, diulang oleh guru di depan kelas lalu anak-anak disuruh untuk bertanya. Mungkinkah? Mau tanya apa lagi? Sudah ada di buku dan sudah dijelaskan kembali oleh guru. Dapatkah memampuan berdiskusi dan bertanya dengan tepat serta minat baca SDM kita dibangun dengan buku yang rinci? (2). Terlalu padat. Buku yang terlalu padat bagi siswa SD sampai SMP akan menjebak siswa dalam rimba raya paragraf. Anak-anak yang belum mahir benar menangkap pokok pikiran dari sebuah paragraf akan tersiksa oleh buku-buku seperti itu. Kadang-kadang, gurupun (apa lagi di daerah) sangat kesulitan dengan buku yang padat. Inikah standar proses pembelajaran yang menyenangkan? Parahnya lagi, semua pelajaran sejak kelas I SD sudah ada bukunya. Padahal dalam kehidupan, kita mesti menangkap pembicaraan orang tanpa mencatat. Mencongak dan ilamah yang dulunya diperkenalkan Belanda ditinggalkan begitu saja. (3). Mengawang-awang. Buku yang mengawang-awang adalah buku yang semata-mata berisikan hal-hal yang sulit dibayangkan oleh siswa. Bercerita tentang luar negeri, salju, pesawat ruang angkasa, kereta cepat dan lain-lain tetapi tidak memulai dari hal-hal yang ada di sekitar siswa (relistik ke abstrak). Apakah pendidikan seperti ini tidak menggiring SDM kepada ketergantungan? (4). Praktikum dengan alat canggih dan memakai langkah-langkah percobaan. Kelemahan praktikum dengan alat yang canggih (mesti dibeli atau walaupun hibah pemerintah LN) membuat tangan siswa tidak bisa bergerak untuk trampil membuat sendiri alat-alat praktikum dari alat di sekitar mereka. SDM kita hanya bisa membeli dan inilah ketergantungan yang diciptakan pendidikan kita. Lalu, kelemahan berikut adalah percobaan dengan langkah-langkah percobaan sehingga siswa dibelenggu untuk melakukan apa yang orang lain sudah gariskan. Pratikum kita adalah membuktikan sesuatu yang sudah terbukti saja tanpa membuka peluang untuk munculnya sesuatu hasil yang baru. Siswa tidak mungkin memiliki prakarsa dan kesimpulannya harus sama dengan buku. Celakanya, SDM yang kita hasilkan tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada lagi yang menuntunnya dengan langkah-langkah kegiatan. Inikah pendidikan yang membangun prakarsa dan mandiri? (5). Teori dipisahkan dari Praktikum. Dimana menariknya praktikum itu jika segala sesuatu yang akan dikerjakan sudah dijelaskan konsepnya? Guru berapi-api menerangkan bahwa udara memuai bila dipanaskan. Guru sudah menyebutkan contoh percobaannya. Lalu siswa tinggal membeo. Apa yang mau dicapai dari kegiatan belajar seperti itu? (6). Soal-soal yang lurus. Masalah serius dengan buku ajar sekarang adalah soal-soal di akhir bab yang jawabannya sudah ada di teks pada bab yang sama lalu terlalu “lurus” artinya soal yang menggiring untuk membuat siswa gemar menghafal dan tidak memakai logika dan analisa.
Dalam kegiatan belajar-mengajar (KMB) di kelas harus dibangun pada anak didik hal-hal berikut: (1) penguasaan konsep, (2). logika yang runut (3). daya imajinasi yang kuat, (4). kemampuan berdiskusi dan (bertanya), (5). tekun bekerja (juga dengan tangan), (6). meningkatkan minat baca, dan (7). Kritis dalam arti memiliki kemampuan memprediksi ke depan (konsekuensi dan resiko) tentang tindakan sekecil apapun yang dilakukan. Hanya dengan memastikan bahwa 6 hal ini dapat dilakukan dalam pembelajaran maka pendidikan kita menghasilkan SDM yang kreatif dan inisiatif. Ujungnya adalah masyarakat yang mandiri dan keseluruhan menjadi bangsa yang besar. Buku ajar yang salahlah yang membuat bangsa ini semakin mundur. Singkatnya, buku ajar yangh dipakai saat ini hanyalah buku referensi yang rinci dan tidak cocok untuk interaksi dalam pembelajaran di kelas. Tinggalkan buku ajar yang seperti itu jika anda ingin merdeka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar