Periset Bukan Super-Star
Oleh: Dr. Kebamoto
Harian Kompas (Kompas 29 Oktober 2008) menurunkan berita tentang periset, dengan judul “Periset Lemah di Aplikasi”. Lilik Hendarajaya dari DRN (Dewan Riset Nasional) mengkritik tentang kelemahan periset dalam menghasilkan karya terapan dan ketidak-cermatan dalam memilih metodologi serta obyek penelitian. Lebih lanjut, Lilik mengatakan bahwa periset (Sains Dasar) harus tahu proses memproduksi serta teknik pemasaran hasil produksi dari riset periset.
Apa yang dikemukakan Lilik ada betulnya untuk konteks Indonesia dimana dana riset yang tersedia sangat terbatas. Tuntutan agar periset sains dasar menguasai masalah riset dari hulu sampai hilir (dari substansi riset, proses produksi sampai teknik pemasaran) itu sebagai cara untuk mendapatkan dana dari industri. Kenyataannya sekarang ini, harapan Lilik Hendrajaya tidak dapat dilaksanakan oleh periset sains dasar. Tulisan ini adalah suatu diskusi lebih lanjut tentang masalah-masalah penghambat lemahnya aplikasi riset sains dasar kita.
Sisi Periset Sendiri
Tuntutan kepada periset Indonesia (periset sains dasar) jauh lebih berat dibandingkan dengan para periset di negara maju. Konsidi periset di negara maju sangat kondusif karena banyak sumber dana yang dapat digunakan untuk riset asalkan periset mampu menulis proposal yang meyakinkan pemilik dana. Hasil riset periset di negara maju diukur dari banyaknya publikasi ilmiah yang diperoleh dari dana tersebut. Perkara hasil riset itu dapat diaplikasikan dalam industri apalagi masalah produksi dan pemasaran, itu semuanya urusan industri beserta staf manajemennya. Periset hanya berkutat dengan substansi risetnya. Bahkan sangat banyak temuan periset yang brillian namun belum tentu cepat diaplikasikan dalam industri. Periset Indonesia yang kebanyakan mengambil doktor dari negara maju tentu saja terbiasa dengan cara kerja seperti ini. Manakala konsidi Indonesia mengharuskan periset untuk menjadi pelobi/pemasar kepada pihak industri, maka periset Indonesia (apalagi periset sains dasar) menemukan hambatan yang besar. Kalaupun periset mau melakukan dan mulai belajar untuk menjadi pelobi atau pemasar kepada industri, maka pastilah memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Sisi Industri
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan industri kita? Apakah industri di Indonesia sangat membutuhkan hasil riset? Pengalaman penulis berdiskusi dengan beberapa teman dari kalangan industri, kesan saya persoalan industri sangat sederhana dan tidak terlalu membutuhkan hasil riset apalagi sains dasar. Ini disebabkan oleh produk (kebanyakan) industri yang tidak beresiko tinggi. Apa yang harus diriseti dari aspek sains dasarnya dari suatu industri yang produknya sendal jepit?
Di samping itu, kebutuhan industri akan hasil riset sangat kecil karena masyarakat kita tidak rewel dan belum semua mengutamakan hal-hal yang estetis, indah dan ergonomik. Masyarakat kita mengutamakan harga yang murah dan kebutuhan utama seperti kebutuhan pokok. Indonesia memiliki penduduk yang 80% adalah petani atau golongan ekonomi rendah. Yang mereka butuhkan adalah produk dengan kandungan teknologi rendah dan karenanya tidak membutuhkan riset. Untuk apa riset pembuatan pelindung buah pisang agar selama pengangangkutan dari Lampung ke Jakarta kulit pisang tidak lecet, jika ketika pisang itu sampai di Jakarta, walaupun kulitnya sudah hitam-hitam, ludes terjual hanya dalam 30 menit? Lalu di mana peluang periset sains dasar?
Sisi Kelembagan
Masalah riset di Indonesia bukanlah masalah periset semata tetapi juga masalah sistem riset pada lembaga riset seperti fakultas pada universitas. Boleh dibilang lembaga riset yang kondusif untuk terwujudnya budaya riset tidak/belum ada. Fakultas dan Departemen sama-sama mengurusi administrasi dan perkuliahan. Sudah begitu departemen terbagi sesuai dengan bidang ilmu misalnya departemen fisika, biologi dan lain-lain. Lalu di departemen itu berkumpul dosen-dosen (para doktor) yang bidang risetnya warna-warni. Sejatinya, sebagaimana yang ada di luar negeri, departemen itu bersifat fungsional untuk riset karena perisetnya multi disipliner di bawah komando satu profesor serta mengkaji masalah tertentu misalnya sampah, energi, flu burung dan lain-lain. Tidak tajuamnya bidang kajian ini yang menyebabkan penetrasinya periset ke industri masih tumpul. Industri tidak mencari ahli fisika atau ahli kimia, melainkan ahli sampah, ahli flu burung,ahli energi dan berbagai ahli spesifik.
Hal yang melemahkan penetrasi periset juga adalah universitas dan fakultas tidak memiliki fokus riset yang jelas, sehingga dana awal (initial fund), ruangan untuk riset serta perekrutan profesor sebagai kepala departemen dapat dipetakan dengan jelas. Mestilah fokus riset ditemukan dulu serta biaya awal termasuk ruangan untuk risetnya tersedia dulu. Perekrutan dan pengangkatan profesor haruslah berdasarkan kebutuhan fakultas untuk memenuhi kebutuhan tenaga perisetnya sesuai dengan fokus tersebut. Kenyataannya, atmosfir ini belum pernah ada di Indonesia. Karena fokus tidak jelas, pengangkatan profesor terjadi pada usia yang sudah sepuh (kebanyakan) dan lebih aneh lagi ruangan yang tersedia tidak memadai.
Akibat lain dirasakan oleh mahasiswa yang menjadi lulusan dengan kompetensi riset yang sangat lemah. Kompas 31 Oktober 2008 menulis sebagai kompetensi lulusan sains dasar tidak jelas. Dari penjelasan di atas, hal ini dapat dimengerti dengan lugas. Boro-boro menanamkan budaya riset kepada mahasiswa. Topik riset pun jangan-jangan mahasiswa yang cari. Topik riset oleh seorang periset bisa melebar atau gonta-ganti. Manakala ada mahasiswa yang nakal, maka jangankan menipu data, menyalin ulang sekripsi orang lain pun akan sulit dipantau oleh pembimbing yang adalah periset itu.
Sisi Pemerintah
Jika pemerintah menginginkan periset untuk berkiprah lebih baik tanpa beban yang berat, maka selain pemerintah menyediakan dana yang besar untuk riset juga harus menginisiasi institusi baru semacam interface antara universitas dengan industri. Institusi ini tugasnya menyambut hasil riset (terutama sains dasar) yang dipublikasikan, mengkaji, membuat prototipe dan ujicobanya sampai menjadi produk dalam arti scaling up dari skala laboratorium ke skala industri. Dari sini pula diperoleh pengetahuan tentang biaya produksi, modal, lama BEP dan lain-lain. Institusi inilah yang menjajahkan hasil riset ini kepada industri dan kalau industri kekurangan modal, pemerintah bisa menanam sahamnya. Institusi ini kalau di Cina ada yang namanya Incubator Technology. Apakah institusi ini dilakoni oleh BPPT di Indonesia?
Ketika penulis berdiskusi dengan rekan-rekan industri tentang aplikasi nanoteknologi, banyak yang tertarik. Namun begitu pembicaraan lebih rinci sampai kepada road-map yang panjang dan berliku-liku, dana yang banyak dan kemungkinan “disalib” negara maju, keadaannya berakhir melemah yang kesimpulannya industri perlu berpikir matang. Siapa yang mau menanamkan uangnya pada riset sains dasar yang belum jelas kapan uangnya kembali. Mungkin periset menunggu industri sekaliber IBM di Indonesia atau menunggu lahirnya periset yang sehebat Alfred Nobel; cari uang sendiri, ditanam dalam riset lalu menghasilkan uang lagi. Periset bukan super-star!
Penulis, Dosen Fisika FMIPA-UI, Pemred Majalah Pendidikan INSIDE, tinggal di Depok. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.
Oleh: Dr. Kebamoto
Harian Kompas (Kompas 29 Oktober 2008) menurunkan berita tentang periset, dengan judul “Periset Lemah di Aplikasi”. Lilik Hendarajaya dari DRN (Dewan Riset Nasional) mengkritik tentang kelemahan periset dalam menghasilkan karya terapan dan ketidak-cermatan dalam memilih metodologi serta obyek penelitian. Lebih lanjut, Lilik mengatakan bahwa periset (Sains Dasar) harus tahu proses memproduksi serta teknik pemasaran hasil produksi dari riset periset.
Apa yang dikemukakan Lilik ada betulnya untuk konteks Indonesia dimana dana riset yang tersedia sangat terbatas. Tuntutan agar periset sains dasar menguasai masalah riset dari hulu sampai hilir (dari substansi riset, proses produksi sampai teknik pemasaran) itu sebagai cara untuk mendapatkan dana dari industri. Kenyataannya sekarang ini, harapan Lilik Hendrajaya tidak dapat dilaksanakan oleh periset sains dasar. Tulisan ini adalah suatu diskusi lebih lanjut tentang masalah-masalah penghambat lemahnya aplikasi riset sains dasar kita.
Sisi Periset Sendiri
Tuntutan kepada periset Indonesia (periset sains dasar) jauh lebih berat dibandingkan dengan para periset di negara maju. Konsidi periset di negara maju sangat kondusif karena banyak sumber dana yang dapat digunakan untuk riset asalkan periset mampu menulis proposal yang meyakinkan pemilik dana. Hasil riset periset di negara maju diukur dari banyaknya publikasi ilmiah yang diperoleh dari dana tersebut. Perkara hasil riset itu dapat diaplikasikan dalam industri apalagi masalah produksi dan pemasaran, itu semuanya urusan industri beserta staf manajemennya. Periset hanya berkutat dengan substansi risetnya. Bahkan sangat banyak temuan periset yang brillian namun belum tentu cepat diaplikasikan dalam industri. Periset Indonesia yang kebanyakan mengambil doktor dari negara maju tentu saja terbiasa dengan cara kerja seperti ini. Manakala konsidi Indonesia mengharuskan periset untuk menjadi pelobi/pemasar kepada pihak industri, maka periset Indonesia (apalagi periset sains dasar) menemukan hambatan yang besar. Kalaupun periset mau melakukan dan mulai belajar untuk menjadi pelobi atau pemasar kepada industri, maka pastilah memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Sisi Industri
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan industri kita? Apakah industri di Indonesia sangat membutuhkan hasil riset? Pengalaman penulis berdiskusi dengan beberapa teman dari kalangan industri, kesan saya persoalan industri sangat sederhana dan tidak terlalu membutuhkan hasil riset apalagi sains dasar. Ini disebabkan oleh produk (kebanyakan) industri yang tidak beresiko tinggi. Apa yang harus diriseti dari aspek sains dasarnya dari suatu industri yang produknya sendal jepit?
Di samping itu, kebutuhan industri akan hasil riset sangat kecil karena masyarakat kita tidak rewel dan belum semua mengutamakan hal-hal yang estetis, indah dan ergonomik. Masyarakat kita mengutamakan harga yang murah dan kebutuhan utama seperti kebutuhan pokok. Indonesia memiliki penduduk yang 80% adalah petani atau golongan ekonomi rendah. Yang mereka butuhkan adalah produk dengan kandungan teknologi rendah dan karenanya tidak membutuhkan riset. Untuk apa riset pembuatan pelindung buah pisang agar selama pengangangkutan dari Lampung ke Jakarta kulit pisang tidak lecet, jika ketika pisang itu sampai di Jakarta, walaupun kulitnya sudah hitam-hitam, ludes terjual hanya dalam 30 menit? Lalu di mana peluang periset sains dasar?
Sisi Kelembagan
Masalah riset di Indonesia bukanlah masalah periset semata tetapi juga masalah sistem riset pada lembaga riset seperti fakultas pada universitas. Boleh dibilang lembaga riset yang kondusif untuk terwujudnya budaya riset tidak/belum ada. Fakultas dan Departemen sama-sama mengurusi administrasi dan perkuliahan. Sudah begitu departemen terbagi sesuai dengan bidang ilmu misalnya departemen fisika, biologi dan lain-lain. Lalu di departemen itu berkumpul dosen-dosen (para doktor) yang bidang risetnya warna-warni. Sejatinya, sebagaimana yang ada di luar negeri, departemen itu bersifat fungsional untuk riset karena perisetnya multi disipliner di bawah komando satu profesor serta mengkaji masalah tertentu misalnya sampah, energi, flu burung dan lain-lain. Tidak tajuamnya bidang kajian ini yang menyebabkan penetrasinya periset ke industri masih tumpul. Industri tidak mencari ahli fisika atau ahli kimia, melainkan ahli sampah, ahli flu burung,ahli energi dan berbagai ahli spesifik.
Hal yang melemahkan penetrasi periset juga adalah universitas dan fakultas tidak memiliki fokus riset yang jelas, sehingga dana awal (initial fund), ruangan untuk riset serta perekrutan profesor sebagai kepala departemen dapat dipetakan dengan jelas. Mestilah fokus riset ditemukan dulu serta biaya awal termasuk ruangan untuk risetnya tersedia dulu. Perekrutan dan pengangkatan profesor haruslah berdasarkan kebutuhan fakultas untuk memenuhi kebutuhan tenaga perisetnya sesuai dengan fokus tersebut. Kenyataannya, atmosfir ini belum pernah ada di Indonesia. Karena fokus tidak jelas, pengangkatan profesor terjadi pada usia yang sudah sepuh (kebanyakan) dan lebih aneh lagi ruangan yang tersedia tidak memadai.
Akibat lain dirasakan oleh mahasiswa yang menjadi lulusan dengan kompetensi riset yang sangat lemah. Kompas 31 Oktober 2008 menulis sebagai kompetensi lulusan sains dasar tidak jelas. Dari penjelasan di atas, hal ini dapat dimengerti dengan lugas. Boro-boro menanamkan budaya riset kepada mahasiswa. Topik riset pun jangan-jangan mahasiswa yang cari. Topik riset oleh seorang periset bisa melebar atau gonta-ganti. Manakala ada mahasiswa yang nakal, maka jangankan menipu data, menyalin ulang sekripsi orang lain pun akan sulit dipantau oleh pembimbing yang adalah periset itu.
Sisi Pemerintah
Jika pemerintah menginginkan periset untuk berkiprah lebih baik tanpa beban yang berat, maka selain pemerintah menyediakan dana yang besar untuk riset juga harus menginisiasi institusi baru semacam interface antara universitas dengan industri. Institusi ini tugasnya menyambut hasil riset (terutama sains dasar) yang dipublikasikan, mengkaji, membuat prototipe dan ujicobanya sampai menjadi produk dalam arti scaling up dari skala laboratorium ke skala industri. Dari sini pula diperoleh pengetahuan tentang biaya produksi, modal, lama BEP dan lain-lain. Institusi inilah yang menjajahkan hasil riset ini kepada industri dan kalau industri kekurangan modal, pemerintah bisa menanam sahamnya. Institusi ini kalau di Cina ada yang namanya Incubator Technology. Apakah institusi ini dilakoni oleh BPPT di Indonesia?
Ketika penulis berdiskusi dengan rekan-rekan industri tentang aplikasi nanoteknologi, banyak yang tertarik. Namun begitu pembicaraan lebih rinci sampai kepada road-map yang panjang dan berliku-liku, dana yang banyak dan kemungkinan “disalib” negara maju, keadaannya berakhir melemah yang kesimpulannya industri perlu berpikir matang. Siapa yang mau menanamkan uangnya pada riset sains dasar yang belum jelas kapan uangnya kembali. Mungkin periset menunggu industri sekaliber IBM di Indonesia atau menunggu lahirnya periset yang sehebat Alfred Nobel; cari uang sendiri, ditanam dalam riset lalu menghasilkan uang lagi. Periset bukan super-star!
Penulis, Dosen Fisika FMIPA-UI, Pemred Majalah Pendidikan INSIDE, tinggal di Depok. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar